Teringat sebuah judul cerpen karangan seorang tmn komunitas **P yg kemarin dibedah bareng. Nyaris aq tertipu. Ketika ku baca isi cerpen tersebut keseluruhan, ternyata tidak sesuai dengan yang aq harapkan. Judul & isi krng sinkron. Ku kira penulisnya akan menceritakan seseorang yang hatinya terkait di masjid, tetapi seseorang yang hatinya terkait pada orang lain yang settingnya di masjid. Mengalirlah kisah picisannya. Kisah cinta yang cengeng & memalukan itu. Overall,, sedikitpun dari cerita tersebut yang menyimpan makna mengajak kepada kebaikan/kebenaran yang haq.
Sungguh,, aq tak mengerti mengapa cerita tak bermutu itu harus memakai judul dengan kata “masjid” dan bersetting di “masjid”. AKU TERTIPU!! SANGAT TERTIPU!!
Ketika aku protes judul yang kurang ada korelasi itu, seorang senior dalam bidang kepenulisan malah membelanya. Dia mengibaratkan seperti sebuah film yang judulnya Daun di Atas Bantal yang krng berkaitan dengan kisah seorang anak jalanan, serta film Pasir Berbisik yang juga ceritanya tidak ada kaitannya dengan judul tersebut. Meskipun ada scene dmn pemainnya tengkurap di atas pasir, lalu mencoba mendengarkan suara pasir-pasir di pantai.
Lalu dalam cerpen Di Masjid, Hatiku Terkait, ku kira menceritakan seseorang yang selalu merasa merindukan tempat bernama masjid itu. Tempat sejuk nan nyaman. Tempat dmn aq selalu ingin dekat dg-Nya. Slalu merindukan-Nya. Sekian lama hati q kosong, sepi seperti kuburan. Dulu seringkali ingin menangis atas kehampaan yg tdk q mengerti. Kerinduan akan majelis ta’lim. Kerinduan akan suasana yang terjaga. Kerinduan mendengar suara adzan ketika aku berada di suatu tempat yang asing. Kerinduan mendengar bacaan murottal imam-imam masjid. Sebuah impianku sejak dulu adalah memiliki rumah yang dekat dengan masjid. Memiliki rumah yang dekat dengan majelis-majelis ilmu. Memiliki rumah yang dekat dengan ma’had. Lingkungan & tetangga yang sholih-sholihah, nyaman terjaga. Aku rindu suasana itu…
Ah,,mereka (bahkan penulis cerpen itu) tak mengerti rasa itu. Tak merasakan kerinduan itu. Mungkin karena ia belum pernah merasakannya. Mungkin karena Alloh belum memanggil hatinya untuk masjid. Kalian tidak tau itu..kalian tidak paham.
Jangan menyandingkan nama tempat yang indah & mulia itu dengan picisan yang tak menjunjung keindahan-Nya. Jangan bawa nama rumah-Nya!! Carilah tempat kalian sendiri, dan jangan di masjid!!


Dari mereka, utk Q