Embun Itu…

20 10 2010

“Enak ya…punya ibu yang mendukung”, Ah..rasa’y kata2 seorang tmn q itu bagai embun yg menetes di atas es yg membeku. Ya,, es itu adlh hati q. Hati t’buat dr es yg tak peka thdp sswtu. Dingin dan kaku. Hmm,,, Terang saja tmn q berkata seperti itu. Bapak & ibu’y slalu m’protes bila jilbab yg dy kenakan lebar2. Lalu tdk sk dy memakai rok & malah menyuruh’y memakai celana jins saja. Tak beda sprti para “jilbaber” gaul. Memakai pakaian tp kyk lemper.

Q kumpulkan lg ingatan masa lalu. Entah beberapa tahun yg lalu ibu q berkoar-koar agar aq mw memakai rok. Lalu, menawari q tuk dibelikan baju gamis. Mengomentari bila jilbab yg q pilih t’lalu kecil, dan malah menyodori q jilbab panjang sampai siku. T’kesan memaksa-maksa q menjadi orng lain. Ah,, tp baru q sadari ketika hampa & kosong q temui, kini nasehat ibu q dlu begitu berharga bagi q.

Aq bersyukur. Ya,, sangat bersyukur bhwa ibu q bawel mslh ini itu, mslh pergaulan, dsb. Mencarikan q lingkungan bljr yg baik, serta m’beri wejangan pd q tiap saat. M’jaga q tetap dlm koridor syari’at & menyentuhkan q dg cinta-Nya. Hmm…ibu,, q mengerti kini…engkau tetesan embun itu.





HiKssssssss…..

6 08 2008

Q pengen nangiss……
Akhir2 ni rasanya beban yg Q tanggung smakin berat.
Sedangkan diri Q sndiri entah mampu ato tidak untuk menaklukkan itu.
Q pengen nangiss……
Nangis………
Dan menangisss…….
Ah, akhir2 ni emng sensi skali.
Huffhh, rasanya kepala Q penat.
Pundak Q berat.
Mata Q tak kuat tuk tdk membiarkan tetesan bening di pelupuk mata itu memerciki pipi Q..

Ya Robb, pinta Q…janganlah Engkau beri beban berat kpd orangtua Q. Terutama ibu Q.
Jangan Engkau tambahi beban beliau, Ya Allah…
Kumohon…..dengan kerendahan hati sebagai hamba-Mu yg tak memiliki kuasa.
Ya Robb, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun….
Ampunilah dosa-dosa hamba dan dosa kedua orangtua hamba.
Berilah kami ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi cobaan dan ujian dari Engkau.
Janganlah Engkau tambah beban ibu hamba.
Ringankanlah beban ibu hamba, Ya Allah….
Pintaku saat ini adalah itu…
Jadikanlah hamba orang yang senantiasa tdk selalu menjadi beban orang lain.
Ya Robbi,,,, ku mohon………..





Sederhana=bijaksana

1 07 2008

Ibu curhat, kata beliau merasa paling beda dg ibu-ibu yg laen.
Tiap kajian, ibu2 yg lain bajunya selalu gonta-ganti yg baru.
Sedangkan beliau masih dg baju2nya yg dlu.
Ah,,sebenernya gak jg…
Wong baju ibuku dah lumayan banyak memenuhi almari.
Itung aja dg baju Q, pasti baju ibu Q lbh bnyk.
Q gak terlalu ambil pusing soal penampilan.
Jujur, Q lbh menghargai orng yg berpenampilan yg sederhana or simpel, drpd berlebihan dlm penampilan.
Gak masalah cuma punya beberapa baju. Yg penting bisa menutup aurat, rapi, dan bersih.
Hendaknya bagaimanapun keadaan kita, saat sempit maupun lapang, kita tetap hidup sederhana.
Salut,,buat orang2 yg sebenarnya mampu membeli segala materi di dunia, tapi dia tetap sederhana, santun, dan berbudi.
Toh, rasulullah jg orng kaya. Tp, lihatlah betapa sederhananya kehidupan beliau sehari-hari.
Aisyah radhiyallahu’anha pernah bercerita kalo selama rasulullah hidup, dia belum pernah merasakan kenyang dg roti gandum 3 hari berturut-turut.
Bahkan, alas tidur beliau hanya terbuat dari jerami dan rerumputan.
Ah, betapa nistanya kita terlalu membangga-banggakan harta benda…
Ingat pepatah latin

Simplex veri sigillum (kesederhanaan menunjukkan kebijaksanaan)





Umi…ukhibbuki fillah…

23 05 2008

“Umi jelek! Umi nakal! Ya udah, aku pulang…”
“Mbak Imaroh yg qona’ah…ishbir,, be patien.. uangnya umi tidak cukup… Besok beli sama abi ya..”

Q hnya mampu terseyum mendengar celoteh seorang bocah 3 tahun tanpa dosa marah2 kpd uminya krn tidak dibelikan sesuatu yg diinginkannya.
Jd inget masa kecil Q..
Q jg sm ja kyk gt. Selalu rewel minta dibeliin ini itu tanpa melihat kondisi umi.
Bahkan tak sering “mengata-ngatain” umi dg kata2 jelek..
Padahal umi sudah memberikan semua yg kita inginkan semampu beliau.
Senantiasa lisannya mendoakan kita dlm sholatnya..
Melahirkan kita dalam keadaan lemah yg bertambah-tambah.
Kasih sayangnya kadang terekspresi dalam kemarahan.
Kemarahan karena perilaku kita tak beradab.
Kemarahan karena umi tak ingin kita jauh dari tuntunan Nya.
Sejatinya, itu adalah sebuah bentuk cinta yang tersampaikan dengan kemarahan.
Cinta yang di mata kita adalah kemarahan.
Subhanalloh.. Sungguh mulia seorang ibu.
Kudo’akan umi dalam tiap sholat..
Ah, semoga semua ibu *terutama yg mengajar kita melalui ayat-ayat Nya* dalam naungan-Nya..








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.