“Enak ya…punya ibu yang mendukung”, Ah..rasa’y kata2 seorang tmn q itu bagai embun yg menetes di atas es yg membeku. Ya,, es itu adlh hati q. Hati t’buat dr es yg tak peka thdp sswtu. Dingin dan kaku. Hmm,,, Terang saja tmn q berkata seperti itu. Bapak & ibu’y slalu m’protes bila jilbab yg dy kenakan lebar2. Lalu tdk sk dy memakai rok & malah menyuruh’y memakai celana jins saja. Tak beda sprti para “jilbaber” gaul. Memakai pakaian tp kyk lemper.
Q kumpulkan lg ingatan masa lalu. Entah beberapa tahun yg lalu ibu q berkoar-koar agar aq mw memakai rok. Lalu, menawari q tuk dibelikan baju gamis. Mengomentari bila jilbab yg q pilih t’lalu kecil, dan malah menyodori q jilbab panjang sampai siku. T’kesan memaksa-maksa q menjadi orng lain. Ah,, tp baru q sadari ketika hampa & kosong q temui, kini nasehat ibu q dlu begitu berharga bagi q.
Aq bersyukur. Ya,, sangat bersyukur bhwa ibu q bawel mslh ini itu, mslh pergaulan, dsb. Mencarikan q lingkungan bljr yg baik, serta m’beri wejangan pd q tiap saat. M’jaga q tetap dlm koridor syari’at & menyentuhkan q dg cinta-Nya. Hmm…ibu,, q mengerti kini…engkau tetesan embun itu.


Dari mereka, utk Q