Embun Itu…

20 10 2010

“Enak ya…punya ibu yang mendukung”, Ah..rasa’y kata2 seorang tmn q itu bagai embun yg menetes di atas es yg membeku. Ya,, es itu adlh hati q. Hati t’buat dr es yg tak peka thdp sswtu. Dingin dan kaku. Hmm,,, Terang saja tmn q berkata seperti itu. Bapak & ibu’y slalu m’protes bila jilbab yg dy kenakan lebar2. Lalu tdk sk dy memakai rok & malah menyuruh’y memakai celana jins saja. Tak beda sprti para “jilbaber” gaul. Memakai pakaian tp kyk lemper.

Q kumpulkan lg ingatan masa lalu. Entah beberapa tahun yg lalu ibu q berkoar-koar agar aq mw memakai rok. Lalu, menawari q tuk dibelikan baju gamis. Mengomentari bila jilbab yg q pilih t’lalu kecil, dan malah menyodori q jilbab panjang sampai siku. T’kesan memaksa-maksa q menjadi orng lain. Ah,, tp baru q sadari ketika hampa & kosong q temui, kini nasehat ibu q dlu begitu berharga bagi q.

Aq bersyukur. Ya,, sangat bersyukur bhwa ibu q bawel mslh ini itu, mslh pergaulan, dsb. Mencarikan q lingkungan bljr yg baik, serta m’beri wejangan pd q tiap saat. M’jaga q tetap dlm koridor syari’at & menyentuhkan q dg cinta-Nya. Hmm…ibu,, q mengerti kini…engkau tetesan embun itu.





Kontemplasi Hari Ini

18 03 2009

Aku bangun lebih awal dari biasanya.
Pdhl biasanya kalo tidur jam 21.00 ke atas, aq terbangun tatkala ayam sudah berkokok menjelang subuh.
Kadang malah lebih.
Entahlah….tiba-tiba aku terbangun dan merasa ada sesuatu yang lama menghilang dari diriku.
Jiwaku kosong, janggal, dan aq kehilangan sesuatu.
Pernah kurasakan ini ketika ku memulai lembaran baru di dunia kampus.

Hidupku jauh dari apa yang sehari-hari kulakukan di sekolah.
Di sekolah, aq mendapatkan bnyk hal yang berharga.
Ilmu yg sangat berharga melebihi seisi dunia ini.
Ilmu yg memberikan q kesejukan di tengah penatnya pelajaran matematika, fisika, kimia, dsb…
Ya, kurindukan “harta” yg sangat mahal itu.
Tetesan embun tausyiah yg kudapat dari Ustadz Muhtar Tri Harimurti, Ustadz Muhtarrom, Ustadzah Una, Ustadzah Bairozi
, Ustadz Hilal, Ustadzah Ani Nurmawati (almarhumah)…
Duhhh,, rasanya ingin menangis.
Sosok-sosok hebat yang membimbingku tak lagi membrsamai q.

Bu Ani, guru bahasa Arab favorit q sekaligus teman dekat ibu q semasa muda dulu meninggal dunia beberapa bulan yang lalu.
Ahh,,,ku sediiiiihhhhhhhhhh……
Pdhl sebelum meninggal, aq sempat menengok beliau di rumahnya.
Beliau sudah terlihat segar dan bs bicara banyak setelah keluar dari rumah sakit karena sakit paru-paru.
Meskipun masih tiduran saja di kamar sambil sesekali menghirup kantong oksigennya yang dilepas itu,kalimat-kalimat penuh semangat untuk sembuh pun keluar dari bibir beliau.
Tak ku sangka beberapa hari kemudian, beliau dikabarkan sakitnya tambah parah dan harus dirawat di rumah sakit lagi.
Ternyata penyakit beliau sudah sangat kompleks.
Paru-paru dan
Ya, hari Jum’at itu adalah hari terakhir beliau di dunia ini.
Msh kuingat betul, terakhir ku jenguk beliau adalah hari ahad.
Lalu, ibu q terakhir menjenguk beliau adalah hari jum’at.

Semua merasa kehilangan…
Bu Fat, guru biologi yang sangat dekat dg Bu Ani di sekolah pun merasa kehilangan sahabatnya.
Ibu q pun begitu.
Bagi ibu q, Bu Ani salah satu teman curhatnya mengenai anak-anak di sekolah.
Tiap kali ada acara pertemuan wali murid di sekolah, ibu q jadi teringat beliau.
Biasanya Bu Ani adalah orang pertama yang menyambut ibu q dg hangat.

Hmmm….ya perpisahan sungguh menyedihkan.
Namun, kdg qt lalai bahwa sesungguhnya ujung dari perpisahan adalah pangkal dari pertemuan.





most wanted friend

27 02 2009

Ah,,tiba-tiba… Entah kenapa tiba-tiba itu membuat q sejenak berkontemplasi, merenung…
Sebuah ayat yang menohok q


Para sahabat akrab, pada hari kemudian saling bermusuhan kecuali orang-orang yang bertaqwa (Qs 43:67).

Hmm…ya..sedikit ku berpikir..
Seorang sahabat bukan hanya teman dekat yang menguatkan kita saat lemah, menjaga kita saat kita kuat.
Yang meneteskan air mata saat kita sedih, tertawa saat kita bahagia.
Memberikan senyum terindahnya tatkala kita rapuh..
Atau sahabat itu bagaikan dua raga dalam satu jiwa??
Apakah makna sahabat cukup sampai disitu???

Aq berpikir & berpikir.. Memang sulit menjadi sahabat yg benar2 sahabat..
Dunia ini…ya, dunia ini melihatnya aq muak.
Topeng2 palsu, lidah2 pembual, aq muakk….
Orng2 yg memberikan cinta palsunya pada temannya, bahkan sahabatnya..
Mereka ada utk mengajak berfoya-foya.
Mereka ada karena kita pny kelebihan.
Mereka ada karena kita baik terhadap mereka.
Ya, mereka ada karena alasan-alasan yg tak penting itu.

Namun, ketika kita jatuh, tangan tak mereka ulurkan tuk kita.
Mereka menjauh, mereka mencemooh, mereka acuh, mereka memalingkan muka..
Itukah teman yang kita cari??
Teman yang mengajak kita tuk tertawa dan tertawa..
Yang tak peduli bahwa tawa mereka adalah jurang api neraka??
Teman yg tak menghargai makna sebuah ukhuwah, sebuah rasa persahabatan.
Yang tak hanya minta dipahami, tetapi juga memahami…

Bodohnya jika kumiliki sahabat seperti itu..
Sungguh bodohnya…..sahabat yg berteman tuk menyakiti hati sahabatnya.
Tak peduli betapa banyak yg telah diberikan sahabatnya itu..
Padahal sebuah persahabatan itu tak hanya dilandasi dengan sebuah kebersamaan.
Namun,, jauh…jauh dari itu, sahabat yang sejati adalah yg selalu mengingatkan kita ketika kita lalai, ketika kita jauh dari-Nya..
Karena ku tak mau di dunia ini bersahabat, di akhirat nanti kani akan bermusuhan.
Ya,,, hanya sahabat yang penuh taqwa dan mau menghargai persahabatanlah yang pantas dinobatkan sbg “the most wanted friend”





Ketika Kesulitan Kian Mendera

7 08 2008

KotaSantri.com : “Hai, orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Hasyr 18).

Dalam interaksi sosial dengan masyarakat sekitar tempat tinggal, seringkali saya mendapati mereka mengeluhkan kehidupan, yang sekarang dirasakan jauh lebih sulit daripada dulu. Dengan beragam profesi yang mereka jalani, mayoritas masih belum mampu memenuhi kebutuhan hidup keseharian. Dan, menurut saya begitulah sesungguhnya potret kehidupan bangsa ini.

Berbagai permasalahan ummat, dari politik, ekonomi, pendidikan, hingga sosial terutama, menjadi persoalan yang kian hari kian pelik saja. Lihat saja biaya hidup yang kunjung melangit, sementara kemampuan masyarakat untuk meningkatkan daya belinya masih minim. Lalu, investasi pendidikan yang bukannya bertambah murah, malah bagi sebagian masyarakat kita, yang notebene ummat Islam, tergolong mahal. Akibatnya, makin hari makin bertambah generasi masa depan yang putus sekolah, atau tidak sempat mengecap pendidikan tinggi. Sungguh, andai kita mau merenungkannya sungguh banyak kondisi yang membuat kita miris mengenangkannya. Dan, hal ini riil, nyata sedang terjadi pada ummat ini.

Merupakan sunatullah, bahwa semakin hari, hambatan akan selalu bertambah berat. Dan, Islam sudah sangat antisipatif sekali menyikapi kondisi ini. Seperti kalam Allah yang tertera pada ayat diawal tulisan ini. Kita, ummat ini disuruh untuk mempersiapkan diri menghadapi kondisi esok, masa depan yang tentu tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, selain Allah. Read the rest of this entry »








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.