No Title

8 07 2010

Bulirnya mengisyaratkan luka
Tak ada yg pernah berusaha menyekanya
Bagai sungai yg mendamba samudra
Mengalir hingga kering kerontang tak bersisa

Menjejakkan mimpi kelana
dan aku mulai tersenyum pada duka
Tertawa pada air mata
Terimakasih untuk semua..
Aku kini jauh lebih bahagia ketika mengenal-Nya
bukan mengenal siapapun jua,, :)





Secangkir Kopi

5 08 2008

Ah…penat belum jua usai..
Tak urung ku terus mengeluhkan penat ini.
Akankah ku terus berlari tanpa arah yang pasti?
Kapankah penat ini meninggalkanku?

Peluh yang seringkali menetes..
tak pernah dipedulikannya.
Mungkin benar, aku hanya butuh secangkir kopi hangat
Dan penat yang berpendar dalam neurocranium akan enyah

Hufff, ku butuh secangkir kopi hangat





Senja Itu…

4 08 2008

Guratan matahari yang nyaris menemui senja…
Tetap saja kosong dalam pekat..
Yang didapati cuma seongok penat.

Yah..senja yang kosong temaram dalam kecamuk pikiran
Tak berintonasi, tak berjeda pasti
Ah, ku tak mau mengorbit..
Ku ingin keluar dari hampa itu..

Tak ada gemersik daun
Tapi, hembusan angin cukup mewakili sunyi..
Di senja yang nyaris temaram..
Aku belajar…
Ya, belajar.
Belajar memaknai bahwa dibalik sunyinya kehidupan, kekuatan baru itu hadir

Senja memang temaram..





Puisi tolol…

9 05 2008

Dlm sayup2 mata yg tinggal tersisa 5 watt,,, Q sukses ngarang sbuah puisi yg terinspirasi dr kekesalan Q, keletihan Q. Puisi itu Q kirim via sms pd Pi2t. Coz Q lg dpt bonus 10 sms. *maklum, M3 community* lol ;D Ni puisi mungkin rada sadis. Smpe2 Pi2t bingung sbenernya puisi penyemangat ato bikin down. Ge-je. Ok,,simak

Ketika tak ada tangan yang enggan terulur.
Ketika dekapan hangat tercerabut dari relung-relung jiwa.
Ketika tak ada lagi jeda tuk sejenak bernafas lega.
Ketika penat ini tak jua enyah terdera.

Ah,di dimensi ini hanya ada sosok tak bernama.
Inginnya sendiri di dunia.
Ia hanya secuil dari bagian dunia
Letih usai menggerus waktunya

Pekat menyisik-nyisik emosi..
Inginku menghancurkannya
Inginku menghabisinya
Inginku membantainya..
Inginku menusuknya..
Inginku semua itu enyah tak tertinggal..

Perlukah ini terekspresi dalam caci maki tak bermakna?
Ataukah ku harus membunuhnya?
Dan semua usai…

Silahkan mencari unsur intrinsik puisi tolol ni! *lol* ;D








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.