Hmm…sejenak kuhela nafas dalam pikiran yang berkecamuk…
“Maaf”…entah kenapa sulit tuk terucap.
Kata yang sangat singkat yang tentunya harus diucapkan dari dalam hati.
Ku menemukan benturan makna dalam menyelami penyesalan yang sejati.
Haruskah penyesalan itu terucap dan diperbaiki??? Ataukah cukup memperbaikinya saja tanpa diucapkan..
Teman, ketika ku arungi dunia, kau menyambut tanganku…
Kini, ketika kita tak lagi seperti dulu.
Kita melangkah di dunia yang berbeda..
Entahlah… ku merasa hilang ditelan oleh keegoisanku sendiri…
Sahabat q, maafkan ku yang harus membagi cinta ini.
Ku harus membaginya tuk Pencipta q, tuk keluarga q, tuk tmn2 q yang lain, dsb…
Wujud cinta itu seperti apa, ku jg tak tau…
Tapi, sahabat q…ku tau sayang mu padaku dari hatimu..
Ah, betapa kejamnya diriku…selama ini kau tak ku pedulikan..
Ukhuwah yang masa bodo tak ku perhatikan…
Padahal sungguh indah ukhuwah itu, subhanalloh…
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu tubuh; apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuh akan sulit tidur dan merasa demam.” (HR Muslim)
“Orang-orang Muslim itu ibarat satu tubuh; apabila matanya marasa sakit, seluruh tubuh ikut merasa sakit; jika kepalanya merasa sakit, seluruh tubuh ikut pula merasakan sakit.” (HR Muslim)
Ah, betapa tak pekanya diri ini…
Sombong dan egois kerapkali tumbuh dalam hatiku..
Ya Alloh,, tuk teman2 q yg merasa terdzolimi karena ketidakpekaan q, semoga mereka selalu dalam naungan-Mu.
Semoga mereka mau memaafkan q.
Kelu rasanya tuk berkata-kata.
Ku hanya ingin suatu saat nanti kita kan dipertemukan di tempat terindah.
Lebih indah daripada alam fana ini… Amin…


Dari mereka, utk Q