Maafkan aku….sahabatku..

14 02 2009

Hmm…sejenak kuhela nafas dalam pikiran yang berkecamuk…
“Maaf”…entah kenapa sulit tuk terucap.
Kata yang sangat singkat yang tentunya harus diucapkan dari dalam hati.
Ku menemukan benturan makna dalam menyelami penyesalan yang sejati.
Haruskah penyesalan itu terucap dan diperbaiki??? Ataukah cukup memperbaikinya saja tanpa diucapkan..

Teman, ketika ku arungi dunia, kau menyambut tanganku…
Kini, ketika kita tak lagi seperti dulu.
Kita melangkah di dunia yang berbeda..
Entahlah… ku merasa hilang ditelan oleh keegoisanku sendiri…
Sahabat q, maafkan ku yang harus membagi cinta ini.
Ku harus membaginya tuk Pencipta q, tuk keluarga q, tuk tmn2 q yang lain, dsb…
Wujud cinta itu seperti apa, ku jg tak tau…
Tapi, sahabat q…ku tau sayang mu padaku dari hatimu..

Ah, betapa kejamnya diriku…selama ini kau tak ku pedulikan..
Ukhuwah yang masa bodo tak ku perhatikan…
Padahal sungguh indah ukhuwah itu, subhanalloh…

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu tubuh; apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuh akan sulit tidur dan merasa demam.” (HR Muslim)

“Orang-orang Muslim itu ibarat satu tubuh; apabila matanya marasa sakit, seluruh tubuh ikut merasa sakit; jika kepalanya merasa sakit, seluruh tubuh ikut pula merasakan sakit.” (HR Muslim)

Ah, betapa tak pekanya diri ini…
Sombong dan egois kerapkali tumbuh dalam hatiku..
Ya Alloh,, tuk teman2 q yg merasa terdzolimi karena ketidakpekaan q, semoga mereka selalu dalam naungan-Mu.
Semoga mereka mau memaafkan q.
Kelu rasanya tuk berkata-kata.
Ku hanya ingin suatu saat nanti kita kan dipertemukan di tempat terindah.
Lebih indah daripada alam fana ini… Amin…





I WANNA CHANGE

7 08 2008

Hufhhh….berhari-hari ini pening rasanya kepalaku.
Ah, ku tak tau hatiku merasa galau, gelisah, tak menentu arah.
Tanggungjawab yang lebih besar telah menantiku.

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”[QS. Al-Isra':36]

Yah..aku lelah telah bersikap egois. Kuteriakkan pada diriku “I WANNA CHANGE”
Change my self… Change my life…. Change my personality…. Change my habbit… Change my attitude…
Barangkali saat ini aku memerlukan seorang sahabat.
Ingin kutumpahkan seluruh air mataku dlm dekapannya hingga kering.
Ah, teman…maukah kau menerima kesedihku?
Kesedihan sahabatmu yang sok tegar ini.

Hari ini selanjutnya mungkin kau tak akan menjumpai wajah ceria ku lagi..
Aku tersenyum, aku tertawa, tapi dalam hatiku menangis..
Yah…karena aku memang sangat letih untuk terus melarikan diri dengan senyum dan tawa.
Saatnya untuk menguras air mata dan kesedihan.

Barangkali tiap jengkal kehidupan yang kita lalui ada makna yang tak pernah kita sadari.
Tiap jengkal yang kita lalui pada dasarnya bersumber dari diri kita sendiri dan akibat dari diri kita.
Allah memang penentu takdir, tapi diri kita-lah yang menjadi “primary key”-nya

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum itu, selagi ia tidak mengubah yang ada di dalam hatinya” [Q.S Ar-Rad : 11]

Kusadari selama ini, keluarga dan teman adalah harta yang paling berharga bagiku…
Tapi, kusadari pula betapa fananya dunia ini…
Ah, ku harus lebih dewasa dan beraktualisasi diri…








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.