Memicu Kreativitas Anak (Day 10)

Agar bebas berkreativitas, maka terkadang perlu kita biarkan anak dalam keadaan yang  entah itu kotor, basah, atau berantakan. Termasuk anak saya hari ini saya biarkan ia bermain di antara pot-pot tanaman.

Awalnya sewaktu memandikannya sengaja saya mandikan di luar kamar mandi di bawah kran dengan ember tempat anak berendam. Ternyata air di ember terlalu banyak untuk mandi anak. Akhirnya sebagian air saya pakai untuk menyirami tanaman.

Setelah selesai mandi, anak seperti biasa ia bermain-main di halaman. Ia pun bermain kran air di dekat pot bunga-bunga. Saya biarkan saja anak bermain-main sampai bajunya basah. Jelas saja basah, ia menampung air dari kran ke gayung yang ia taruh di bawah kran. Lalu ketika merasa air dalam gayung sudah cukup, ia dekati pot bunga gelombang cinta yang besar, ia siramkan air tersebut ke pot itu. Begitu habis airnya, ia sirami lagi dengan menampung air dari kran lg. Padahal tadi bunganya juga sudah saya sirami, dan kemudian disirami si kecil sampai berkali-kali. Duh,, kasihan si bunga dalam pot.

Advertisements

Memicu Kreativitas Anak (Day 9)

Mengobrak-abrik barang-barang di rumah adalah aktivitas yang menyenangkan bagi anak-anak. Seisi kulkas dikeluarkan atau seisi lemari dikeluarkan semua. Namanya saja sedang masa-masanya ia kepo alias ingin tahu ini itu.

Aktivitas semacam itu tidak bisa dicegah sih. Kalau dicegah si anak bakalan ngambek dan nangis gulung-gulung. Alhasil, sebagai ibu ya memang harus legowo untuk membersihkan kekacauan hasil dari kreativitas anak.

Termasuk anak saya yang suka sekali ngobrak-abrik kotak barang di rak. Sering sekali saya biarkan anak ngobrak-obrik kotak tersebut, Biasanya sih isinya hanya peralatan si kecil entah itu bedak, minyak telon, baby oil, kosmetik saya dan lain sebagainya. Nah, si kecil tuh selalu minta diambilin kotak tersebut.

Kali ini pun saya biarkan si kecil mengobrak-abrik kotaknya. Ia menemukan minyak telon, pura-puranya ia minyaki sendiri perut dan tubuhnya dengan minyak telon. Tanpa membuka tutupnya sih. Lalu ia nemu wadah BB cream milik saya, ia pun berpura-pura mengoles-oleskan di wajah. Untungnya ia belum bisa membuka tutup benda-benda tersebut. Jadi masih aman buat dikasihkan ke anak untuk mainan.

Memicu Kreativitas Anak (Day 8)

Beberapa hari ini anak sangat susah untuk diajak mandi. Kadang bisa sampai siang, ia baru luluh mau dimandikan. Agar menarik anak mau diajak mandi, di kamar mandi saya biarkan anak membawa mainan-mainannya. Termasuk maianan boneka karet berbentuk tokoh kartun pokemon.

Anak suka sekali bermain-main dengan pokemon sewaktu dimandikan. Si pokemon pun ikut mandi si kecil. Alias dicemplungin di ember beserta teman-temannya.

Ketika dimandikan dan anak bermain-main dengan pokemonnya, tiba-tiba si kecil menyeletuk, “Mama… temon (baca: pokemon) eek,, cawik-cawik,,”. Saya pun ketawa sendiri. Maksudnya si adek, pokemon lagi eek dan disuruh nyebokin, Ya Alloh,, ada-ada saja si kecil.

Memicu Kreativitas Anak (Day 7)

Masih dengan aktivitas yang ingin anak lakukan sendiri. Kali ini eyangnya si kecil membeli minuman kacang hijau di tempat biasa beli sayuran. Biasanya minuman tersebut diwadahi plastik kecil-kecil lalu diikat dengan karet.

Si kecil pun meminta minum sari kacang hijau. Ia tunjuk-tunjuk di atas meja. Namun, saya sendiri agak bingung cara meminumkannya. Akhirnya saya pindahkan minuman tersebut di botol minum si kecil yang ada sedotannya agar si kecil mudah untuk minum sendiri. Saya tutup botol tersebut.

Tiba-tiba si kecil tidak mau botolnya ditutup. Ia ingin minum tanpa sedotan, atau langsung dari mulut botol. Ia minum sedikit demi sedikit, meski agak kesusahan. Ia bawa wadah minum itu sambil bermain kesana kemari sampai tumpah-tumpah. Mungkin karena dipikirnya minuman sari kacang ijonya tinggal sedikit di botol dan tidak berguna, akhirnya ia tumpahkan sekalian sisa minuman di lantai. Dan botolpun kosong. Lantai pun penuh minuman sari kacang ijo. Hehehe…

Memicu Kreativitas Anak (Day 6)

Anak benar-benar sedang terobsesi untuk belajar melakukan banyak hal sendiri. Selain ingin mencoba makan sendiri, ia pun ingin minum sendiri, Bahkan minum dari gelas langsung.

Seperti yang diminta anak kali ini. Kalau pas haus, biasanya saya ambilkan air putih di gelas kaca, lalu saya minumkan ke anak. Kadang saya menggunakan botol yang ada sedotannya. Nah,, si kecil ini seringnya minta minum dari gelas langsung, namun pengen ia pegang sendiri gelasnya.

Untuk berjaga-jaga agar gelas tidak pecah, saya ganti gelas anak menjadi gelas plastik. Tiap ia meminta minum, saya ambilkan air minum lalu ia minum sendiri dari gelas itu. Terkadang kalau airnya sudah tinggal sedikit, ia jadi lebih susah untuk meminumnya langsung dari gelas. Nah,, tiba-tiba anak mengambil tutup botol yang ada sedotan yang menyatu dengan tutup itu. Lalu ia pakai tutup yang ada sedotan tersebut untuk menyedot air yang ada di dalam gelas platiknya. MasyaAlloh, takjub aja anak 1,5 tahun bisa berpikir seperti itu.

Memicu Kreativitas Anak (Day 5)

Aktivitas menyuapi anak akhir-akhir sering berubah menjadi mengamati anak makan. betapa si kecil selalu ingin mencoba bisa makan sendiri menggunakan sendok. Kalau tidak dikasih sendok, ia bakal ngambek tidak mau makan.

Yah,, oke lah saya pikir sambil melatih anak juga untuk mandiri. Meski memang sebenarnya saya lebih suka menyuapinya agar tidak berceceran. Namun, jika saya suapi terus, anak juga tidak akan jadi mandiri dan berkreativitas sesuka hatinya.

Alhasil, kali ini saya pasrahkan sepiring nasi sayur lauk beserta sendoknya ke anak. Saya taruh di kursi plastik yang dapat dijangkau anak. Lalu anak berusaha menyendok-nyendok isi piringnya. Namanya juga belajar, tentu tidak semudah itu memasukkan semua nasi ke mulutnya. Ia berusaha menyendok-nyendokkan nasi di piring namun hanya sedikit saja yang bisa terangkut ke sendoknya. Pun ketika memasukkan ke mulutnya, hanya sedikit nasi yang berhasil dimasukkan. Yang lainnya berceceran dan menempel di baju anak.

Saya sadar bahwa untuk mendidik anak butuh kesabaran dan konsekwensi dari apa yang kita lakukan. Tidak masalah waktu makan jadi lama atau makanan anak jadi berceceran dan tidak banyak yang masuk ke mulutnya. Yang penting anak bisa berkembang keingintahuannya.

Memicu Kreativitas Anak (Day 4)

Bagi anak-anak, usia 1,5 tahun adalah masa mereka meniru apa yang dilakukan orang dewasa. Berbagai hal, entah cara duduk, cara berjalan, makan, minum dan lain sebagainya. Sama halnya dengan yang dilakukan anak saya.

Anak saya mulai berlatih makan sendiri. Biasanya anak saya beri makan sendiri dengan catatan, makanan yang bisa ia pegang dengan tangan. Bukan makanan yang ia harus menggunakan alat untuk memakannya.

Barangkali karena sering melihat orang rumah makan dengan piring dan sendok, ia pun ingin melakukannya sendiri. Jika biasanya si kecil mau disuapi dengan sendok, kali ini ia tidak mau disuapi. Makanan sudah hampir mendekati mulutnya, ia meminta sendok  yang dipakai untuk menyuapinya, Ia raih-raih sendok sedemikian rupa.

Akhirnya saya pun menyerahkan sendok itu, meski sebenarnya saya pengen menyuapi anak agar cepat selesai makannya dan tidak berceceran dimana-mana. Namun, saya pasrah ketika anak ingin belajar mandiri. Si kecil lantas memakai sendok tersebut untuk makan.